Dalam hitungan belasan hari umat Islam sedunia akan kembali dipertemuan bulan suci Ramadhan. Dalam menyambut bulan Ramadhan, pihak pengelola Masjidil Haram menyiapkan program khusus untuk perempuan.
Pada bulan Ramadhan tahun ini, Masjidil Haram bukan sekadar ruang ibadah terbesar di dunia. Ia menjelma menjadi lanskap spiritual yang hidup—berdenyut oleh doa, langkah kaki, dan harap jutaan manusia. Di antara gelombang manusia yang mengitari Ka’bah, ada satu narasi yang kini mendapat sorotan khusus: pengalaman ibadah perempuan.
Tahun ini, Arab Saudi meluncurkan sebuah skema layanan terintegrasi yang dirancang khusus untuk jemaah perempuan selama Ramadhan. Program ini bukan sekadar penambahan petugas atau fasilitas, melainkan rekayasa sosial dan spiritual yang menyentuh aspek bimbingan, keilmuan, pemberdayaan, hingga kualitas layanan—sebuah pendekatan yang jarang terlihat di ruang ibadah global.
Enam Jalur, Satu Tujuan: Menghadirkan Kekhusyukan
Di bawah koordinasi Presidency of Religious Affairs for the Grand Mosque and the Prophet’s Mosque, unit urusan perempuan merancang sistem dengan enam jalur utama dan 24 inisiatif seperti dikutip FEM dari himpuh.or.id. Enam jalur itu mencakup:
-
Kesadaran dan bimbingan
-
Urusan keilmuan dan pembinaan perempuan
-
Pengayaan dan relawan
-
Pemberdayaan perempuan
-
Hubungan masyarakat dan komunikasi kelembagaan
-
Pengembangan dan kualitas
Struktur ini memungkinkan pendekatan yang lintas budaya dan bahasa, menjangkau perempuan dari Asia, Afrika, Eropa, hingga Amerika—tanpa mengganggu kesakralan dan ritme ibadah.
Bagi banyak jemaah perempuan, terutama yang baru pertama kali umrah atau datang tanpa pendamping laki-laki, sistem ini menjadi penopang emosional sekaligus intelektual.
Di Tengah Kerumunan, Ada Pendampingan Personal
Pada jam-jam padat, terutama menjelang berbuka dan selepas tarawih, area Masjidil Haram dan pelatarannya dipenuhi petugas perempuan. Mereka hadir bukan sebagai pengawas, melainkan pendamping.
Dengan seragam sederhana dan komunikasi multibahasa, para petugas ini:
-
Menjawab pertanyaan fikih secara langsung
-
Meluruskan praktik ibadah yang keliru
-
Memberi panduan bagi jemaah lansia atau yang kebingungan
-
Membagikan materi edukasi keagamaan
Di ruang sebesar Masjidil Haram, pendampingan personal seperti ini menjadi pengalaman langka—dan bagi sebagian perempuan, sangat menentukan kualitas ibadah mereka.
Ruang Ilmu di Jantung Spiritual Dunia
Tak hanya soal teknis ibadah, jalur keilmuan menghadirkan kajian dan pelajaran khusus perempuan. Topiknya beragam: dari fikih Ramadhan, etika beribadah di ruang publik global, hingga penguatan nilai Islam moderat.
Pendekatannya tidak menggurui. Sebaliknya, ia mengajak perempuan untuk berdialog dengan teks, tradisi, dan realitas kontemporer—sebuah hal yang kian relevan di tengah dunia Muslim yang terus berubah.
Relawan Perempuan: Dari Jamaah Menjadi Penggerak
Salah satu elemen paling menarik dari program ini adalah pelibatan relawan perempuan. Mereka bukan hanya membantu teknis lapangan, tetapi juga terlibat dalam pengorganisasian, komunikasi, dan pelayanan krisis.
Bagi banyak relawan, ini bukan sekadar pengabdian Ramadhan, melainkan pengalaman kepemimpinan spiritual—belajar bekerja di salah satu situs keagamaan paling kompleks di dunia, dengan standar kualitas internasional.
Pemberdayaan yang Tak Selalu Terlihat
Di balik layar, jalur pemberdayaan perempuan fokus pada pengembangan kapasitas profesional dan intelektual para petugas. Mereka dilatih untuk bekerja di lingkungan dua masjid suci dengan standar tinggi, akurasi keilmuan, dan sensitivitas lintas budaya.
Pemberdayaan di sini tidak hadir dalam slogan besar, melainkan dalam kompetensi, kepercayaan diri, dan keberlanjutan peran.
Mengukur Kekhusyukan, Menjaga Kualitas
Melalui jalur pengembangan dan kualitas, otoritas menerapkan evaluasi kinerja dan perbaikan berkelanjutan. Setiap program diukur dampaknya—bukan hanya dari sisi operasional, tetapi juga nilai edukatif dan spiritual yang dirasakan jemaah.
Sementara itu, jalur hubungan masyarakat memastikan komunikasi antara pengelola dan jemaah perempuan berjalan terbuka, responsif, dan manusiawi.
Ramadhan yang Lebih Inklusif
Di Masjidil Haram, kesunyian doa sering kali lebih nyaring daripada suara apa pun. Program layanan khusus ini menunjukkan bahwa inklusivitas dan kekhusyukan tidak harus saling meniadakan.
Bagi jutaan perempuan yang datang ke Tanah Suci, Ramadhan kini bukan hanya tentang hadir di tempat paling suci dalam Islam, tetapi juga tentang diperhatikan, dipahami, dan diberdayakan—di jantung spiritual dunia (Wan)

