JAKARTA, FEM– Tak lama umat Islam akan kembali kedatangan bulan suci Ramadhan, nah bagi banyak perempuan muslim, Ramadhan bukan hanya soal kalender yang berganti.
Ia datang sebagai musim—musim untuk melambat, menata ulang, dan kembali menyadari apa yang benar-benar penting. Jauh sebelum hilal terlihat, persiapan itu sudah dimulai: diam-diam, perlahan, dan sering kali tak terlihat.
Di dapur, di lemari, di sudut ruang ibadah kecil di rumah, perempuan menyiapkan Ramadhan dengan caranya sendiri.
Membersihkan yang Tak Kasatmata
Persiapan Ramadhan kerap dimulai bukan dari fisik, melainkan dari batin. Banyak perempuan memilih menjadikan hari-hari menjelang Ramadhan sebagai momen refleksi: memperbaiki niat, merapikan hubungan, dan berdamai dengan diri sendiri.
Ada yang mulai membiasakan dzikir ringan di sela aktivitas, ada pula yang menulis jurnal sederhana—tentang hal-hal yang ingin diperbaiki, dilepaskan, atau disyukuri. Bagi mereka, Ramadhan adalah ruang latihan kesadaran: menahan, bukan hanya lapar, tetapi juga emosi dan kata-kata.
Tubuh sebagai Amanah
Puasa menuntut kesiapan fisik. Karena itu, sebagian perempuan mulai menyesuaikan pola makan jauh hari sebelum Ramadhan: mengurangi gula berlebih, memperbanyak air putih, dan membiasakan makan teratur.
Bukan demi tampilan, melainkan agar tubuh cukup kuat menjalani hari-hari panjang berpuasa, bekerja, mengurus keluarga, dan tetap beribadah dengan khusyuk. Tubuh diperlakukan bukan sebagai alat semata, melainkan amanah yang harus dijaga.
Tidur pun mulai diatur. Waktu layar dikurangi. Semua demi satu tujuan: hadir utuh di bulan yang dinanti.
Rumah yang Lebih Tenang
Di banyak rumah, persiapan Ramadhan terasa melalui kegiatan merapikan. Lemari dibersihkan, dapur ditata ulang, stok bahan makanan diperiksa. Bukan untuk berlebihan, tetapi untuk memudahkan.
Perempuan sering kali menjadi pengatur ritme rumah. Mereka tahu bahwa rumah yang rapi dan tenang membantu ibadah berjalan lebih ringan. Beberapa bahkan menyiapkan sudut khusus—sajadah, Al-Qur’an, lampu temaram—ruang kecil untuk kembali setiap kali dunia terasa riuh.
Menata Waktu, Menyusun Niat
Ramadhan juga tentang manajemen waktu. Perempuan yang bekerja, ibu rumah tangga, maupun mahasiswa, mulai menyusun ulang prioritas. Agenda disederhanakan. Janji sosial dikurangi. Waktu luang dialihkan untuk tilawah, belajar, atau istirahat.
Banyak yang menyiapkan target personal: bukan angka ambisius, melainkan realistis. Satu juz sehari, satu kebiasaan buruk yang ditinggalkan, satu amalan kecil yang dijaga konsistensinya.
Ramadhan, bagi mereka, bukan ajang mengejar kesempurnaan, tetapi kesungguhan.
Berpakaian dengan Kesadaran
Persiapan juga menyentuh lemari pakaian. Perempuan memilih busana yang nyaman, sopan, dan memudahkan ibadah. Bukan soal tren, melainkan fungsi dan niat.
Sebagian mulai memilah: mana yang benar-benar dipakai, mana yang bisa disumbangkan. Ramadhan menjadi momen untuk hidup lebih ringan—termasuk dari dorongan konsumsi yang tak perlu.
Menyiapkan Diri untuk Berbagi
Tak sedikit perempuan yang menjadikan Ramadhan sebagai waktu memperluas empati. Mereka mulai menyisihkan rezeki, merencanakan sedekah, atau ikut kegiatan berbagi. Ada yang memasak lebih untuk dibagikan, ada pula yang memilih donasi senyap.
Bagi mereka, puasa adalah pelajaran paling nyata tentang rasa cukup—dan dari sanalah kepedulian tumbuh.
Ramadhan sebagai Perjalanan Personal
Setiap perempuan memiliki cara berbeda menyambut Ramadhan. Tidak ada standar tunggal, tidak ada daftar wajib yang harus dicentang sempurna. Yang ada hanyalah niat untuk hadir lebih sadar—sebagai hamba, sebagai manusia, sebagai perempuan.
Pada akhirnya, Ramadhan bukan tentang seberapa sibuk persiapannya, melainkan seberapa siap hati menjalaninya. Dan di balik rutinitas harian yang sering luput dari sorotan, perempuan muslim menenun persiapan itu dengan penuh ketekunan—satu hari, satu niat, satu langkah kecil menuju makna (Mutma).

