![]() |
Lis Rosita Dewi Anggota DPR RI terpilih dari Fraksi Partai Gerindra Iis Rosita Dewi. Foto: Runi/rni |
JAKARTA, FEMALE.CO.ID- Anggota DPR RI terpilih dari Fraksi Partai
Gerindra Iis Rosita Dewi yang baru saja mengucapkan sumpah dan janjinya
sebagai Anggota DPR RI periode 2019-2024, berharap keterwakilannya
menjadi anggota legislatif bisa jadi pemicu bagi kemunculan
politisi-politisi perempuan terutama dari partai yang dinaunginya
(Gerindra).
Gerindra Iis Rosita Dewi yang baru saja mengucapkan sumpah dan janjinya
sebagai Anggota DPR RI periode 2019-2024, berharap keterwakilannya
menjadi anggota legislatif bisa jadi pemicu bagi kemunculan
politisi-politisi perempuan terutama dari partai yang dinaunginya
(Gerindra).
“Jika selama ini saya mendukung peran
suami saya (Edhi Prabowo) yang sudah jauh lebih dahulu menjadi anggota
legislatif dari belakang, mulai hari ini, sejak dilantik menjadi anggota
DPR RI, kami akan bermitra dan berjalan berdampingan untuk ikut
menyuarakan aspirasi masyarakat luas, khususnya yang berada di dapil
kami masing-masing,” ujar Iis usai pengucapan sumpah dan janji Anggota
DPR RI Periode 2019-2024 di Senayan Jakarta, Selasa (1/10/2019).
suami saya (Edhi Prabowo) yang sudah jauh lebih dahulu menjadi anggota
legislatif dari belakang, mulai hari ini, sejak dilantik menjadi anggota
DPR RI, kami akan bermitra dan berjalan berdampingan untuk ikut
menyuarakan aspirasi masyarakat luas, khususnya yang berada di dapil
kami masing-masing,” ujar Iis usai pengucapan sumpah dan janji Anggota
DPR RI Periode 2019-2024 di Senayan Jakarta, Selasa (1/10/2019).
Dijelaskan Iis, keinginannya berada di
lembaga legislatif ini selain ingin menyuarakan hak-hak perempuan, Ia
ingin mencontohkan kepada kaum perempuan agar tidak ragu untuk terjun ke
dunia politik. Politik menurut Iis adalah cara dan seni yang identik
dengan keindahan, oleh karenanya butuh juga sentuhan wanita. Tidak bisa
dipungkiri, keterwakilan perempuan dalam sebuah partai politik saat ini
masih sangat rendah, terutama yang ada di Fraksi Partai Gerindra.
lembaga legislatif ini selain ingin menyuarakan hak-hak perempuan, Ia
ingin mencontohkan kepada kaum perempuan agar tidak ragu untuk terjun ke
dunia politik. Politik menurut Iis adalah cara dan seni yang identik
dengan keindahan, oleh karenanya butuh juga sentuhan wanita. Tidak bisa
dipungkiri, keterwakilan perempuan dalam sebuah partai politik saat ini
masih sangat rendah, terutama yang ada di Fraksi Partai Gerindra.
Walaupun keterwakilan perempuan di partai
politik sangat diharapkan, Ia mengakui dan berharap agar wanita tidak
melupakan kodratnya sebagai seorang perempuan, ibu bagi anak-anaknya di
rumah. Dengan kata lain ketika berada di dalam rumah Iis pun harus siap
menanggalkan seluruh atribut dan karir politiknya, dan kembali menjadi
istri dan ibu bagi ketiga anaknya.
politik sangat diharapkan, Ia mengakui dan berharap agar wanita tidak
melupakan kodratnya sebagai seorang perempuan, ibu bagi anak-anaknya di
rumah. Dengan kata lain ketika berada di dalam rumah Iis pun harus siap
menanggalkan seluruh atribut dan karir politiknya, dan kembali menjadi
istri dan ibu bagi ketiga anaknya.
Terkait dengan pro dan kontra Rancangan
Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP), yang salah satunya tentang
dengan perempuan dalam kehidupan berumah tangga, terutama hubungan istri
dengan suami, Iis menilai poin ini pada RKUHP itu memang harus ditinjau
ulang.
Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP), yang salah satunya tentang
dengan perempuan dalam kehidupan berumah tangga, terutama hubungan istri
dengan suami, Iis menilai poin ini pada RKUHP itu memang harus ditinjau
ulang.
“Saya menilai RUU KUHP itu memang harus ditinjau ulang ya.
Karena menurut saya, banyak masalah yang lebih krusial yang harus
dibuat atau diutamakan walaupun RKUHP itu pembahasannya memang sudah
lama. Semoga dengan DPR yang baru ini, bisa memperbaiki hal tersebut.
Artinya membuang yang buruk dan mempertahankan yang sudah baik,”
pungkasnya. (ayu/es/dpr)
Karena menurut saya, banyak masalah yang lebih krusial yang harus
dibuat atau diutamakan walaupun RKUHP itu pembahasannya memang sudah
lama. Semoga dengan DPR yang baru ini, bisa memperbaiki hal tersebut.
Artinya membuang yang buruk dan mempertahankan yang sudah baik,”
pungkasnya. (ayu/es/dpr)


