Perempuan Jadi Kunci Generasi Emas 2045, Wamen Isyana: Bukan Sekadar Pendukung, Tapi Penggerak Utama

FEM Action News Terkini

JAKARTA, FEM – Peran perempuan kembali disorot sebagai faktor krusial dalam menentukan masa depan bangsa. Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga)/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, menegaskan perempuan merupakan pilar utama dalam membangun generasi berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.

Dalam keterangannya di Jakarta, Minggu, Isyana menekankan bahwa perempuan—terutama ibu—memegang peran strategis dalam mempersiapkan generasi menghadapi tantangan masa depan, sekaligus mendukung program prioritas pemerintah.

“Perempuan bukan hanya bagian dari pembangunan, melainkan penggerak utama perubahan,” tegas Isyana.

Bonus Demografi Jadi Momentum

Isyana menjelaskan, Indonesia saat ini tengah berada pada fase penting, yakni bonus demografi, di mana jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan usia nonproduktif. Momentum ini, menurutnya, harus dimanfaatkan dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Ia mengaitkan hal ini dengan visi besar pemerintah dalam Asta Cita, khususnya poin keempat yang menekankan penguatan kualitas SDM.

“Jika infrastruktur sudah diperkuat, maka peningkatan kualitas manusia—terutama perempuan—menjadi sangat krusial,” ujarnya.

Program Makan Bergizi Gratis Didorong

Sebagai langkah konkret, pemerintah juga menggulirkan program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD (3B).

Program ini dinilai menjadi fondasi penting dalam menciptakan generasi sehat sejak dini.

Keluarga Jadi Fondasi Pembangunan

Isyana menegaskan pembangunan bangsa harus dimulai dari keluarga sebagai unit terkecil. Pembentukan BKKBN di bawah Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga pada Oktober 2024 menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam memperkuat peran keluarga.

“Perempuan memiliki peran besar dalam keluarga, mulai dari mendidik, merawat, hingga mengelola kehidupan rumah tangga,” katanya.

Tantangan Pengasuhan Makin Kompleks

Di era digital, tantangan pengasuhan anak dinilai semakin kompleks. Perubahan teknologi dan dinamika sosial menuntut orang tua untuk terus belajar.

“Dunia terus bergerak. Orang tua harus mau beradaptasi agar bisa mendampingi anak dengan tepat,” ujar Isyana.

Pendekatan Siklus Hidup

Untuk menjawab tantangan kependudukan, pemerintah melalui BKKBN menerapkan pendekatan berbasis siklus hidup, mulai dari masa kehamilan hingga lansia.

Pendekatan ini mencakup seluruh tahapan kehidupan agar pembangunan manusia berjalan utuh dan berkelanjutan.

Tak hanya itu, Isyana juga menyoroti pentingnya perhatian pada remaja dan lansia. Remaja, menurutnya, membutuhkan ruang konseling untuk menghadapi berbagai persoalan, termasuk kesehatan mental. Sementara itu, lansia perlu tetap diberdayakan agar tetap produktif.

“Kita juga harus memastikan lansia tetap berdaya. Ini bagian dari bonus demografi kedua,” pungkasnya (Mutma)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *