Ilustrasi perempuan dan AI. Dok : FEM.
JAKARTA, FEM– Pagi di Jakarta, notifikasi rapat masuk, model AI sudah merangkum email semalam, dan spreadsheet “berpikir” sendiri mencari anomali.
Di ruang kerja seperti ini, bukan siapa yang paling cepat mengetik yang menang—melainkan siapa yang tahu bertanya tepat ke mesin, memeriksa jawabannya secara kritis, lalu menggerakkan tim untuk mengeksekusi.
Dalam lima tahun ke depan, 44% keterampilan inti pekerjaan akan berubah; “AI & big data” berdampingan dengan “leadership & social influence” sebagai kompetensi yang paling diburu perusahaan. Di era inilah, perempuan—yang kerap terpusat di peran administratif berisiko otomatisasi—perlu naik kelas dari pengguna menjadi arsitek alur kerja berbasis AI.
1) AI Literacy & Promptcraft Terapan
Apa itu: Melek konsep AI (kapan tepat dipakai, kapan tidak), mampu merumuskan prompt yang presisi, membuat guardrails, dan membaca batasan model.
Mengapa penting: Adopsi GenAI kian meluas dan mulai menghasilkan nilai terukur; pekerja yang paham how-to akan memimpin produktivitas. LinkedIn juga menempatkan AI literacy di daftar keterampilan paling dicari 2025.
Latihan cepat: Biasakan multi-turn prompting (set konteks–tujuan–kriteria), minta model menjelaskan langkahnya, dan verifikasi silang dengan sumber primer.
2) Data Literacy untuk Keputusan
Apa itu: Mampu membaca metrik, memahami kualitas data, dan menyimpulkan insight tanpa “terhipnotis” angka.
Mengapa penting: AI yang kuat tetap rapuh jika datanya bias/berisik.
Perusahaan akan mencari talenta yang bisa menghubungkan data dengan keputusan bisnis—kompetensi yang WEF sebut kian esensial seiring otomasi meluas.
Latihan cepat: Kuasai statistik dasar (distribusi, korelasi vs kausal), A/B testing, serta prinsip traceability data.
3) Critical & Systems Thinking
Apa itu: Berpikir lintas sebab-akibat—dampak AI pada proses, peran, pelanggan, hingga lingkungan.
Mengapa penting: WEF 2025 menandai lonjakan kebutuhan creative/critical thinking serta resilience–agility. Inilah pembeda manusia: menghubungkan konteks luas saat mesin hanya menalar pola.
Latihan cepat: Saat menerima rekomendasi AI, selalu jawab tiga tanya: Asumsi apa di baliknya? Variabel apa yang luput? Biaya sosial-lingkungan apa yang tersembunyi?
4) AI Collaboration & Workflow Design
Apa itu: Mendesain alur kerja human-in-the-loop: siapa yang memberi brief ke AI, siapa yang memeriksa mutu, kapan handoff ke manusia/otomasi.
Mengapa penting: Nilai ekonomi AI muncul ketika proses dirombak, bukan sekadar “menyisipkan” alat. McKinsey menekankan lonjakan produktivitas bila AI terintegrasi dengan cara kerja, bukan ad-hoc.
Latihan cepat: Petakan proses Anda end-to-end, tandai “titik nyeri” (repetitif/berisiko error), uji otomasi bertahap, lalu ukur dampaknya.
5) Ethical AI & Bias Guarding
Apa itu: Mampu mengenali bias algoritmik, menilai dampak terhadap gender/kelompok rentan, dan menegakkan tata kelola (kebijakan data, audit model).
Mengapa penting: Studi UNESCO menunjukkan model besar kerap mereproduksi stereotip gender—mengasosiasikan perempuan dengan ranah domestik. Tanpa penjaga etika, inovasi AI justru memperlebar ketimpangan. Inisiatif Women4Ethical AI menyerukan standar etik dan keterwakilan perempuan dalam pengambilan keputusan.
Latihan cepat: Terapkan bias checklist: uji keluaran pada variasi nama/gender/bahasa; dokumentasikan dataset & model (model card/data sheet); siapkan mekanisme appeal bagi pengguna yang terdampak.
Kenapa Ini Mendesak—Terutama bagi Perempuan
Occupational shift akibat GenAI paling cepat terasa di pekerjaan administratif & layanan pelanggan—peran yang banyak diisi perempuan.
Laporan kebijakan tenaga kerja menekankan perlunya reskilling berbasis inklusi agar perempuan tidak tertinggal.
Kabar baiknya: keterampilan manusiawi—komunikasi, empati, keputusan bernuansa—justru makin naik daun di tempat kerja ber-AI.
“Field Guide” 30 Hari: Cara Mulai Tanpa Menunggu
- Minggu 1 – Literasi AI: Ikuti kursus singkat prompting & verification; buat playbook pribadi untuk tugas rutin. (Target: hemat 1 jam/hari).
- Minggu 2 – Data & Eksperimen: Rancang satu A/B test sederhana (judul kampanye, urutan email, atau layout toko).
- Minggu 3 – Redesign Proses: Gambar alur kerja Anda; pilih 2 langkah untuk co-pilot AI (ringkas dokumen, klasifikasi tiket, dlsb).
- Minggu 4 – Tata Kelola Mini: Terapkan bias check, simpan prompt log, dan ajukan SOP human-in-the-loop ke tim.
Mesin Boleh Cerdas, Manusia Tetap Kompas
AI mengubah cara kita bekerja, tetapi arah tetap di tangan kita. Dengan lima keterampilan ini—melek AI, melek data, berpikir sistem, mendesain kolaborasi manusia–mesin, dan menjaga etika—perempuan bukan sekadar “bertahan” di era AI, melainkan memimpin transformasinya (Mutma).
Sumber :
-
WEF Future of Jobs 2025: perubahan keterampilan, naiknya creative/critical thinking. World Economic Forum+1reports.weforum.org
-
UNESCO: bukti bias gender di model AI & inisiatif Women4Ethical AI. UNESCO+1GCED Clearinghouse
-
McKinsey: nilai ekonomi GenAI & kesiapan tempat kerja 2024–2025. McKinsey & Company+2McKinsey & Company+2
-
LinkedIn/Forbes 2025: keterampilan paling dicari (AI literacy dkk). LinkedInForbes
-
Kajian ketenagakerjaan terbaru: risiko otomatisasi menimpa peran administratif, perlunya reskilling. The AustralianIWPR

