Ketika Buku Membawa Susi Pudjiastuti Mengubah Laut Indonesia

FEM Inspire Inspiratif News Sosok Terkini

Susi Pudjiastuti. Foto : Ist.

JAKARTA, KABAR FEM– Di sebuah ruang diskusi yang hangat di Menteng, Jakarta Pusat, suara lantang Susi Pudjiastuti kembali menggetarkan telinga hadirin. Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan itu berdiri dengan penuh keyakinan, berbicara tentang sesuatu yang mungkin sederhana—membaca.

Namun, di balik kesederhanaan itu, tersimpan kunci yang membawanya dari pantai kecil di Pangandaran menuju jajaran pemikir global dunia.

“Sekolah saya tidak tinggi. Maka, saya menutup kekurangan dengan banyak membaca. Tirulah saya. Meniru yang banyak membaca, bukan sekolah yang tidak tinggi,” katanya tegas.

Membaca sebagai Jalan Hidup

Susi tidak pernah menempuh pendidikan tinggi formal. Ia hanya menamatkan sekolah setara SMA lewat Paket C. Tetapi keterbatasan itu tak membuatnya berhenti belajar. Buku-buku filsafat menjadi temannya di masa muda—Jean Paul Sartre, eksistensialisme, dan gagasan-gagasan besar tentang kehidupan ia lahap bersamaan dengan novel populer karya Kho Ping Hoo.

Dari kebiasaan membaca itu, Susi menguasai berbagai bahasa asing: Inggris, Jerman, hingga Prancis. “Karena literasi membaca bagus, saya bisa memiliki wawasan luas,” ujarnya.

Bagi Susi, pengetahuan adalah senjata. Ia berulang kali menegaskan: jika ingin memimpin, seseorang harus lebih tahu daripada yang dipimpin. “Bagaimana orang mau mengikuti kalian kalau kalian tidak mengerti apa-apa?” ucapnya, memberi tantangan bagi generasi muda.

Laut, Kapal, dan Revolusi Biru

Nama Susi Pudjiastuti melejit ketika Presiden Joko Widodo menunjuknya menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan pada 2014. Dengan pendidikan formal yang minim, banyak yang meragukannya. Namun, ia menjawab keraguan itu dengan kebijakan tegas: penenggelaman kapal asing pencuri ikan.

Langkah berani itu bukan sekadar simbol. Data membuktikan stok ikan Indonesia yang sempat merosot tajam dari 20 juta ton menjadi 7,3 juta ton, kembali meningkat. Pada 2016, angkanya melonjak menjadi lebih dari 12,5 juta ton. Laut Indonesia, yang selama ini dijarah, kembali bernafas.

“Itulah poros maritim perikanan terjadi,” jelasnya. Ia menambahkan, dengan adanya Peraturan Presiden yang melarang modal asing dan kapal asing menangkap ikan di Indonesia, laut Nusantara akhirnya bisa dipulihkan.

Dari Pangandaran ke Dunia

Apa yang dilakukan Susi tak hanya bergema di tanah air. Negara kecil seperti Palau meniru langkahnya: menenggelamkan kapal asing pencuri ikan. Nama Susi pun masuk dalam jajaran Top Global Thinkers untuk bidang pertahanan dan keamanan laut.

“Bangga, lulusan SMA kelas 2 bisa jadi pemikir 10 orang dunia. Berarti pola pikir kita diakui. Saya yang cuma SMA kelas 2 bisa begini, kalian bisa apa?” katanya, setengah menantang, setengah memotivasi.

Oase Pengetahuan

Bagi Susi, literasi bukan sekadar membaca buku, melainkan sebuah oase pengetahuan. Di sanalah ia menemukan kemampuan untuk berpikir logis, membuat keputusan berani, dan melahirkan kebijakan yang diakui dunia.

Ia membuktikan bahwa kepemimpinan tidak selalu lahir dari gelar akademis. Kepemimpinan bisa tumbuh dari rasa ingin tahu, keinginan belajar, dan keberanian untuk berbeda.

Susi Pudjiastuti, perempuan yang lahir di pesisir Pangandaran, mengingatkan kita pada satu hal sederhana: membaca adalah pintu ke dunia. Dari pantai kecil di Jawa Barat, ia melangkah ke panggung global—bukan karena gelar, tapi karena halaman-halaman buku yang tak pernah lelah ia baca (Mutma)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *