Pada suatu pagi yang dingin di New York City, tahun 1908, ribuan perempuan berjalan di jalanan sempit distrik industri.
Mereka bukan turis, bukan pula peserta festival. Mereka adalah buruh pabrik tekstil yang menuntut sesuatu yang pada masa itu dianggap radikal: upah layak, jam kerja manusiawi, dan hak untuk memilih.
Dari demonstrasi sederhana itu, sejarah dunia perlahan berubah.
Hari ini, setiap 8 Maret diperingati sebagai International Women’s Day, sebuah hari yang menjadi simbol perjuangan perempuan di seluruh dunia.
Namun di balik peringatan yang kini dipenuhi bunga, pidato, dan kampanye media sosial, tersimpan kisah panjang tentang keberanian, pengorbanan, dan revolusi sosial.
Awal Mula: Api Perlawanan di Pabrik-Pabrik Industri
Awal abad ke-20 adalah masa ketika revolusi industri mempekerjakan jutaan perempuan di pabrik-pabrik dengan kondisi kerja yang keras.
Mereka bekerja hingga 14 jam sehari, dengan upah jauh lebih rendah dibanding laki-laki.
Protes besar buruh perempuan pada 1908 di New York kemudian memicu gerakan yang lebih luas.
Setahun kemudian, Partai Sosialis Amerika menggelar Hari Perempuan Nasional pertama pada 1909. Ide ini kemudian melintasi Samudra Atlantik.
Pada tahun 1910, seorang aktivis Jerman bernama Clara Zetkin mengusulkan sebuah hari internasional untuk memperjuangkan hak perempuan dalam konferensi perempuan sosialis di Copenhagen.
Usulan itu disetujui oleh lebih dari 100 perempuan dari 17 negara. Tidak ada yang menyangka gagasan itu kelak menjadi gerakan global.
Revolusi yang Dimulai oleh Perempuan
Pada 1917, perempuan Rusia turun ke jalan di Petrograd untuk memprotes kelaparan dan perang yang menghancurkan negara mereka.
Aksi tersebut dikenal sebagai “Bread and Peace”—roti dan perdamaian. Demonstrasi itu memicu rangkaian peristiwa yang kemudian meledakkan Russian Revolution.
Beberapa hari setelah protes tersebut, Tsar Rusia turun tahta dan pemerintah sementara memberikan hak pilih kepada perempuan.
Tanggal demonstrasi itu dalam kalender Gregorian adalah 8 Maret. Sejak saat itu, tanggal tersebut menjadi simbol perjuangan perempuan dunia.
Dari Gerakan Politik Menjadi Hari Global
Selama beberapa dekade, peringatan ini lebih banyak dirayakan di negara-negara sosialis dan gerakan buruh.
Baru pada tahun 1975, ketika dunia tengah memasuki gelombang kedua gerakan feminisme, United Nations secara resmi mengakui Hari Perempuan Internasional.
Sejak saat itu, 8 Maret menjadi panggung global untuk menyoroti isu kesetaraan gender, pendidikan perempuan, kekerasan terhadap perempuan, hingga kesenjangan ekonomi. Di banyak negara, hari ini bahkan menjadi hari libur nasional.
Perempuan yang Mengubah Arah Dunia
Sepanjang sejarah, perjuangan yang dimulai dari jalanan pabrik telah membuka jalan bagi perempuan untuk memimpin di berbagai bidang. Dari politik hingga ilmu pengetahuan, dari aktivisme hingga teknologi.
Tokoh seperti Malala Yousafzai, yang memperjuangkan pendidikan perempuan di Pakistan, hingga ilmuwan seperti Marie Curie, menjadi simbol bahwa perjuangan itu tidak pernah berhenti.
Namun perjalanan menuju kesetaraan masih panjang. Menurut berbagai laporan global, perempuan di banyak negara masih menghadapi kesenjangan upah, keterwakilan politik yang rendah, serta kekerasan berbasis gender.
Sebuah Hari, Sebuah Pengingat
Hari Perempuan Internasional bukan sekadar perayaan. Ia adalah pengingat bahwa banyak hak yang hari ini dianggap normal—hak memilih, hak bekerja, hak mendapatkan pendidikan—lahir dari keberanian perempuan yang dulu dianggap “melawan tradisi”.
Dari jalanan New York hingga revolusi di Petrograd, dari ruang konferensi di Copenhagen hingga forum Perserikatan Bangsa-Bangsa, sejarah menunjukkan satu hal: Perubahan besar sering dimulai dari mereka yang berani berkata “cukup.”
Dan pada setiap tanggal 8 Maret, dunia mengingat kembali bahwa sejarah tidak hanya ditulis oleh para raja dan jenderal—
tetapi juga oleh perempuan yang berani mengubah dunia.
Sumber: United Nations, UN Women, Encyclopaedia Britannica, Women’s History Review, Journal of Women’s History.

